Sabtu, Oktober 16, 2010

Asteroid Sebesar Bus Tingkat Luput Tabrak Bumi - IPTEK

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melaporkan sebuah asteroid seukuran bus bertingkat, melintas sangat dekat dengan Bumi tepatnya melintas di antara garis orbit Bulan dan Bumi, pada Senin (11/10).

Batu luar angkasa yang dinamai 2010 TD54 itu melintas hanya 28.000 mil dari Bumi pada pukul 10.51 pagi waktu London, atau kira-kira pukul 5.51 waktu Indonesia barat.

"Sebuah batuan luar angkasa seukuran itu akan terbakar habis di atmosfer kita dan tidak akan membahayakan permukaan bumi," tulis badan antariksa Amerika Serikat, NASA, di akun Twitter-nya seperti yang dikutip Daily Mail, Selasa (12/10). Batu luar angkasa itu dideteksi oleh NASA di Arizona Kitt Peak National Solar Telescope, AS.

September silam para astronom melihat sebuah benda luar angkasa berbahaya, yang kemudian dinamai 2010 ST3, yang akan melintas empat juta mil dari Bumi pada pertengahan bulan ini.

Benda yang berdiameter 150 meter itu merupakan benda luar angkasa berbahaya pertama yang dipantau oleh Pan STARRS, sebuah teleskop yang bertujuan untuk mencari benda luar angkasa berbahaya.

Selain itu dua batu luar angksa yang lebih kecil terpantau oleh pos survey Catalina Sky di Arizona, AS, terbang melewati Bumi beberapa bulan lalu.

Asteroid 2010 RX30 yang diperkirakan sepanjang 32 sampai 55 kaki, melintas 154.000 mil dari Bumi dan kemudian diikuti oleh 2010 RF12, dengan panjang 20 sampai 49 kaki yang melintas hanya 49.000 dari Bumi.

Menurut para ilmuwan salah satu asteroid akan menghantam atmosfer Bumi setiap sepuluh tahun. Asteroid yang lebih kecil memasuki atmosfer sekitar sekali setahun meski telah hancur terlebih dahulu sebelum menjejak permukaan Bumi. (Ant)



tvOne: Asteroid Sebesar Bus Tingkat Luput Tabrak Bumi - IPTEK


Asdansbacktonature

Baca Selengkapnya..

Rabu, September 08, 2010

Iedul Fitri

Selama bulan Ramadan sering sekali kita mendengar nasihat bahwa 10 hari pertama puasa Ramadan adalah saat pengampunan terhadap dosa, 10 hari kedua adalah saat penuh rahmat, dan 10 hari terakhir adalah saat kita dijauhkan dari api neraka.

Banyak ustaz dan dai yang mengatakan bahwa dengan berakhirnya kita menjalani puasa Ramadan, kita (pasti) memperoleh kemenangan, bahwa kita akan kembali seperti anak kecil yang baru lahir, tanpa dosa sama sekali. Kita kembali kepada fitrah diri kita sebagai manusia.

Karena itu layaklah kita memperingati kemenangan dan peristiwa kembalinya kita kepada fitrah, menjadi manusia tanpa dosa. Itulah Idul Fitri yang selalu kita rayakan dengan meriah, ada kalanya secara berlebihan. Di sejumlah tempat kita mengadakan selamatan seperti hari raya ketupat, enam hari setelah Idul Fitri, suatu kegiatan budaya yang penuh nuansa keagamaan.

Maaf dan Ampunan

Apakah kita pasti telah memperoleh kemenangan setelah berpuasa secara fisik? Sementara kita tidak tahu apakah secara batin puasa kita telah memberikan dampak positif secara berarti kepada diri kita sehingga bisa mengendalikan nafsu pada 11 bulan lainnya? Dosa kita kepada Allah pasti diampuni.

Tetapi apakah Allah pasti mengampuni dosa kita kepada orang lain yang haknya kita ambil dengan cara paksa atau tipuan, kalau orang itu tidak memaafkan tindakan kita? Dosa kecil dan tidak berarti kepada saudara atau kenalan tentu mudah untuk meminta maaf dan juga tidak sulit untuk memaafkannya.

Namun dosa yang tidak kecil dan sangat berarti tentu tidak mudah untuk meminta maaf dan memaafkannya. Dosa antarkawan atau antarsaudara akibat rebutan harta atau berkaitan dengan bisnis dan dosa akibat konflik kepentingan seperti masalah politik tentu memerlukan kemauan kuat untuk bisa saling memaafkan.

Bermaafan secara sungguh-sungguh dan tidak hanya basa-basi belaka. Apakah pihak-pihak yang bertikai itu mampu mengalahkan diri sendiri dan bersedia meminta dan memberi maaf? Apakah dosa banyak pemimpin yang mencederai janji kepada rakyatnya (bahkan sumpah jabatan atas nama Allah) otomatis terhapus setelah mohon ampun kepada Allah tanpa meminta maaf kepada rakyat?

Apakah dosa para aparat penegak hukum kepada seseorang yang mencari keadilan dan diperlakukan tidak adil akan diampuni kalau aparat tersebut tidak meminta maaf kepada yang bersangkutan? Apakah dosa para pengusaha atau para pengacara yang bekerja sama dengan para penyelenggara negara di atas akan terhapus setelah mereka memohon ampun kepada Allah, tanpa meminta maaf secara langsung kepada pihak yang mereka rugikan?

Apakah para pejabat negara yang membantu terjadinya pembalakan liar yang mengakibatkan banjir dan perusakan lingkungan akan diampuni dosa mereka tanpa mendapat maaf dari masyarakat yang menjadi korban. Masyarakat yang jumlahnya amat banyak itu, bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada mereka?

Mengejar Kemenangan Hakiki

Layakkah kita memperingati suatu kemenangan yang belum pasti? Kita telah memperingatinya puluhan kali dan kita tidak tahu dengan pasti apakah betul kita telah memperoleh kemenangan. Kita juga belum yakin benar apakah kita telah berhasil menghapus dosa kita, termasuk dosa kepada mereka yang kita ambil haknya, mereka yang kita rugikan, mereka yang berhak menagih janji kepada kita saat kampanye tetapi kita abaikan?

Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita betul-betul, bukan hanya merasa, telah memperoleh kemenangan sejati dalam puasa kita? Jawabannya: jika kita telah mencapai tujuan berpuasa, yaitu menjadi orang yang bertakwa, derajat tertinggi di mata Allah. Seperti apakah orang yang bertakwa?

Orang yang mau meminta maaf dan memaafkan, yang mau menafkahkan rezeki kepada sesama dalam keadaan sempit atau lapang, yang mau jujur kepada dirinya, yang rendah hati, yang berusaha sekuat tenaga menjaga dan mengevaluasi keikhlasan di dalam setiap kegiatan, yang berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yang apabila berlaku zalim kepada dirinya, dia sadar dan memohon ampun kepada Allah.

Dan itu kita jalankan selama 11 bulan setelah Ramadan. Tentu tidak mungkin tercapai 100 persen, tetapi tercapai sebagian besar sudah cukup. Berapa puluh kali puasa Ramadan dan perayaan Idul Fitri kita butuhkan supaya kita bisa memperoleh kemenangan sejati dan kembali menjadi manusia yang sesuai dengan fitrahnya sehingga sungguh-sungguh layak merayakan kemenangan tersebut? Jawabannya secara umum adalah seperti judul sebuah lagu Blowing in the Wind (meniup atau berembus ke arah angin) alias tidak ada jawabannya.

Hanya Allah yang tahu jawabannya. Tentu ada yang bisa menjawab pertanyaan itu dan mampu memperoleh kemenangan sejati di dalam berpuasa, kemenangan atas dirinya dan nafsunya. Jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan dari mereka adalah rakyat kecil yang tidak dikenal oleh orang banyak. Mereka tidak kekurangan dan juga tidak banyak berlebih, tetapi mereka ikhlas berbagi dengan sesama.

Mereka selalu diberi jalan keluar oleh Allah dalam setiap persoalan dan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Mereka adalah orang yang bertakwa dan berserah diri (tawakal) kepada Allah. Mereka yakin Allah akan mencukupi kebutuhan mereka. Tentu mereka berusaha secara lahiriah, tetapi secara batiniah mereka bersikap bahwa cukuplah Allah bagi mereka karena Dia adalah sebaik-baik penolong.

Semoga kita bisa benar-benar menjadi pemenang sejati di dalam menjalani ibadah puasa Ramadan. Kalau tidak tahun ini, ya pada tahun depan. Kita tentu berdoa semoga kita masih bisa bertemu dengan Ramadan 1432 H. Kita harus berbaik sangka kepada Allah bahwa doa kita ini akan diijabahi. (*)



Sumber : Dikutip Dari Tulisan Salahuddin Wahid ( Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng )



Baca Selengkapnya..

Rabu, September 01, 2010

Jalma Bodo VS Jalma Pinter

Bodo pisan jalma anu sok nginjeumkeun buku.



Tapi leuwih bodo deui, upama aya jalma anu nginjeum buku ... dipulangkeun.



Nu kumaha ari jalma pinter?



Jalma pinter mah nu maca ieu buku bari ngagaleuh bukuna.



Sumber & Gambar : Sabulangbentor - Majalah Cakakak



Asdansbacktonature


http://humorsunda.cjb.net/ - http://bobodoran.cjb.net/

Baca Selengkapnya..