Kamis, Oktober 31, 2013
Greenerations
Kamis, Oktober 03, 2013
Mentari Dibalik Bromo
![]() |
| Kawasan Pinus di Penanjakan |
![]() |
| Bermandikan Embun |
![]() |
| Gunung Batok |
![]() |
| Gunung Bromo |
![]() |
| Bibir Bromo |
![]() |
| Dari Puncak Bromo |
![]() |
| Posko |
![]() |
| Pure |
![]() |
| Menunggu Penumpang |
![]() |
| Action |
Selasa, Maret 20, 2012
Makan Enak, Nikmat dan Smart Bersama Sotoji
Kurang lebih sebulan ini nama Sotoji menjadi topik yang lumayan hangat dikalangan para Blogger. Sesaat mengalahkan dominasi makanan-makanan cepat saji lainnya yang sejenis. Sotoji merupakan salah satu makanan alternatif yang punya nilai lebih karena bahan-bahan pendukung lainnya yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.
Sotoji memang ingin tampil beda dengan yang lain, sebut saja campuran jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang dipercaya sangat baik untuk kesehatan tubuh. Dengan segudang manfaat yang dikandung jamur tiram diharapkan konsumen bukan hanya mendapatkan makanan yang lezat tapi juga bisa mendapatkan manfaat lebih untuk kesehatan tubuhnya.
Sebenarnya saya sendiri sempat heran dan ragu, apakah Sotoji ini sejenis makanan instan lain semisal bihun kuah “rasa soto” dengan tambahan jamur tiram ataukah bentuk dan jenis lain dari “soto” ? Anyway apapun nama, bentuk dan rasanya sotoji bisa dijadikan alternatif makanan instan lain yang bisa menggugah selera makan kita.
Anyone Can Cook

Kalau cara memasak Sotoji sebenarnya sih gampang banget. Kata Chef Gusteau yang ada di film Ratatouille sih “Anyone Can Cook”. Siapa saja pasti bisa memasaknya karena petunjuk memasaknya jelas bangets, tinggal kreasi dari setiap orang yang memasaknya saja yang pasti berbeda satu sama lain.
Sotoji dengan campuran jamur tiram yang mempunyai segudang manfaat tentu tidak serta merta menyembuhkan penyakit dan menyehatkan tubuh kita. Dengan jumlah jamur yang cuma segitu, utk dosis terapi ya nggak cukuplah. Buat nurunin berat badan ? ya nggak jugalah apalagi kalo makan sotojinya nambah terus (karena keenakan). Untuk mencapai tubuh ideal dan sehat tentu bukan dengan makan sotoji yang berjamur tiram itu saja, tapi dengan menjadikan pola hidup dan makan yang sehat serta berolah raga yang teratur menjadi “trade mark” kita. Konsumsi ”Sabu” (sayur dan buah) yang maksimal, kurangi konsumsi makanan-makanan yang mengandung gula dan garam tinggi, minyak yang berlebih serta pengawet, penyedap dan perasa sintetis. Semoga Semua produk Sotoji tidak menggunakan bahan-bahan sintetis seperti itu.
Agar makan Sotoji menjadi lebih enak tentu kita juga harus Smart. Bagi yang suka sayuran lebih tentu jika memasak Sotoji banyakin sayurannya, bisa tambah sayuran hijau bisa juga tambah sayuran-sayuran lain yang berwarna warni agar lebih menggugah selera tentunya. Karena Tuhan menciptakan berbagai sayuran dengan bentuk dan warna yang bermacam-macam tentu dengan manfaat yang beragam pula.

So selain bisa menikmati lezatnya Sotoji kita juga minimal bisa menambah asupan sayuran sehat untuk tubuh kita. Ingat kalau kita sayang tubuh jangan manjakan lidah, bukan hanya lidah yang kita beri makan tapi juga tubuh kitapun memerlukannya. Jadi jangan lupa jika memasak Sotoji tambahkan sayur-sayuran lain agar lebih bermanfaat bagi tubuh kita.
Sotoji Mori
Jika anda mengunjungi blog ini tentu nggak asyik kalau tidak ngomongin Back To Nature atau Go Green. Kalaulah Sotoji memang ingin tampil beda dengan makanan sejenis yang sudah ada, kenapa tidak total saja “berani tampil bedanya “.? Kemasan Sotoji yang dominan plastik walau “food grade” tapi tentu lama kelamaan bisa mengganggu ekosistem alam. Karena seperti kita tahu sampah plastik baru bisa terurai setelah ribuan tahun. Agar hal itu tidak terjadi alangkah baiknya jika pada kemasan Sotoji tertulis himbauan agar konsumen bisa memanfaatkan sampah plastik Sooji untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Kemasan bekas Sotoji bisa dibuat tas, stationary, hiasan dinding, merchandise atau benda-benda lain yang lebih bermanfaat. Mungkin Sotoji bisa mewadahi kreasi konsumen tersebut dengan membuka Toko online/offline yang bisa menjual produk-produk tersebut. Produk-produk Go Green tersebut bisa juga dijual dikalangan blogger dan kalangan netter laninnya. Dengan begitu Sotoji dan komunitas setianya ikut serta untuk lebih Go Green.Kira-kira bisa tidak ya Sotoji menyisihkan beberapa rupiah dari setiap penjualan satu kemasan Sotoji untuk program Go Green? Coba kalikan beberapa rupiah tersebut dengan jumlah Sotoji yang terjual setiap harinya. Berapa jumlahnya dalam satu bulan dan berapa jumlahnya dalam satu tahun ? Banyak sekali kan ? Ingat dengan progran Go Green tersebut manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh generasi sekarang tapi juga generasi yang akan datang, generasi anak dan cucu kita.

Dengan uang hasil menyisihkan tersebut, Sotoji bisa membuat Sotoji Green Park, Sotoji Forest – Sotoji Mori. Jika dicanangkan dari sekarang tentu sepuluh atau dua puluh tahun kedepan bukan tidak mungkin hal tersebut bisa terwujud. Sotoji Green Park misalnya bisa menjadi tempat atau pusat “study” dan juga tempat rekreasi yang lebih bersahabat dengan alam. Program “study” yang diadakan misalnya berisi tentang program-program go green mulai dari pemanfaatan kemasan plastik bekasnya, pengembangan jamur tiramnya juga sekalian prospek berwira usaha jamur tiramnya. Dengan demikian Sotoji juga secara tidak langsung membantu masyarakat untuk belajar berwira usaha. Kedepannya wirausahawan jamur tiram tersebut bisa menjadi mitra Sotoji.
Bisa juga menjadi pusat pelatihan bagi mereka yang ingin “berkarir” dengan Sotoji. Dengan dukungan Sotoji masyarakat bisa membuka kedai-kedai Sotoji atau menjadi pedagang keliling –Sotoji siap saji, so bukan hanya tukang bakso atau mie ayam saja yang bisa berkeliling tapi juga kedai sotoji keliling juga bisa. O ya Sotoji juga bisa mewadahi komunitasnya untuk mengumpulkan bekas kemasan Sotoji agar bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
Oke itu dulu reviewnya semoga bermanfaat. Mulai sekarang Yuk kita makan enak dan smart bersama Sotoji . Be Smart dan Go Green Sotoji!
(Asdansbacktonature)
Sumber Gambar :
1. Sotoji - My Collections
2. Gusteau - Pixar Animation
3. Sotoji Asyik - My Collections
4. Reuse Reduce Recycle - http://www.cupofjoe.tv
4. Go Green - http://therecycletimes.com
Kumpul Blogger Disini Tempatnya


Jika Anda Merasa Artikel Ini Menarik Dan Bermanfaat Masukan Alamat Email Anda Disini Untuk Berlangganan Melalui Email Secara GRATIS.
Baca Selengkapnya..
Minggu, Desember 26, 2010
XL Green Forest
Lamun aya nu ngaku Negeri kita Indonesia merupakan zamrud khatustiwa, negeri yang subur dan indah. Negeri yang penduduknya dimanjakan oleh Sang Maha Pencipta dengan kekayaan hayatinya yang begitu berlimpah. Bahkan Koes Plus mengabadikan keindahan dan kesuburan negeri kita Indonesia dalam syair lagunya, Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Namun apakah kini keadaan itu masih relevan ? Hutan kita kini semakin sempit, gunung dan bukit sudah tak hijau lagi, kicauan burung hampir tak terdengar lagi, illegal logging sudah tak terkendali, tanah kita pun semakin tandus, tangan-tangan setan telah merenggut hak-hak anak cucu kita untuk memiliki bukit dan gunung yang hijau, tanah yang subur dan tidak tercemar, juga udara yang bersih serta sehat. Akankah kita mewariskan alam yang rusak dan sudah tak indah lagi untuk anak cucu kita ? Semoga tidak. Tower Forest Pertumbuhan pengguna telepon seluler yang kian hari semakin bertambah jumlah dan cakupannya, telah menuntut para provider seluler untuk semakin melebarkan sayapnya jauh ke pelosok negeri. Begitu pula PT XL Axiata agar sinyal yang diterima oleh pelanggan semakin jernih tentu harus menambah tower/menara Base Transceiver Station (BTS) sampai ke pedalaman. Dengan semakin banyaknya pemain di sektor telekomunikasi seluler di Indonesia, maka semakin banyak pula “ hutan baru “ negeri ini. Hutan dengan pohon-pohon yang berdaun antena dan berbatang besi. Tower/menara BTS kini semakin banyak bermunculan. Kabarnya di Jakarta saja terdapat lebih dari 3.400 tower/menara seluler. Jika dihitung di seluruh Indonesia, menara BTS sudah mencapai lebih dari 35.000 unit. Akankah mereka mengedepankan ego dan tidak mau berbagi ? Bukankah dengan berbagi tower/menara BTS para operator seluler bisa lebih menghemat? Satu tower tidak lagi untuk satu operator seluler, tapi bisa beberapa operator seluler. Dengan demikian sejumlah tower/menara yang sudah tidak terpakai, bisa dimanfaatkan dan dipindahkan ke daerah yang belum terjangkau sinyal seluler, sehingga area blank spot pun semakin kecil. Dengan demikian sektor perekonomian di pedalaman pun akan banyak terbantu dan merasakan manfaat kecanggihan teknologinya. Pendirian tower/menara BTS haruslah melihat sisi-sisi administrasi, lingkungan dan juga budaya. Sehingga sejumlah polemik tentang pendirian dan pembongkaran tower/menara BTS nantinya sudah tak ada lagi. Kita tak ingin mendengar lagi ada tower/menara BTS yang tidak memperhatikan lingkungan sekitar dan dibangun tanpa kelengkapan persyaratan IMB dan HO. Kita juga tak ingin mendengar lagi ada tower/menara BTS yang sudah habis masa kontraknya namun masih tetap berdiri dan beroperasi. Dengan jumlah tower/menara BTS XL yang kini mencapai lebih dari 21.650, mari mulai saat ini XL mempelopori gerakan One Tower Together, Green Tower Together. Sinar matahari, angin juga unsur-unsur alam sekitar bisa dimanfaatkan untuk menunjang operasional satu Green Tower. Dengan satu tower/menara yang lebih ramah lingkungan untuk bersama, maka Green Indonesia akan semakin cepat terwujud. XL Go Green Go Paperless Pelanggan XL Pasca bayar kini bisa membantu mewujudkan Hutan Indonesia kembali hijau. Mari dukung XL dengan berpartisipasi mulai dari sekarang dalam program XL GO GREEN GO PAPERLESS. Berusaha mengurangi penggunaan kertas secara tidak langsung mengurangi penebangan hutan sehingga kelestarian lingkungan hidup lebih terjaga. Untuk mengetahui rincian dan jumlah tagihan XL nya, Pelanggan Pasca Bayar XL khususnya bisa berpartisipasi dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Ayo daftarkan tagihan XL Pasca Bayar kita melalui Email Billing dan atau Web Billing. Apakah langkah itu saja cukup untuk membuat hutan kita kembali menjadi hijau dan juga rimbun ? Tentu tidak. Bagaimana jika XL meniru konsep Walimari yang diterapkan di sekolah penulis ketika SMP dulu? Ya dengan mulai menyisihkan beberapa rupiah setiap hari secara konsisten untuk ditabung dan selanjutnya membuat hutan kita menjadi hijau kembali. Ada satu mimpiku tentang XL, kira-kira XL bisa nggak ya mewujudkannya ? Mimpiku… suatu saat ada sebuah hutan di Indonesia yang bernama “ XL Green Forest “. Bentuknya jika dilihat dengan mata telanjang dari bulan tentu saja berbentuk logo XL sekarang ini. Berarti…. Lebar hutannya minimal harus 110 km dan panjangnya harus… sekian km . Luas juga kalau begitu hutannya. Tapi nggak harus sebesar atau seluas itu juga gak apa-apa dech, lagian siapa juga yang mau pergi ke bulan hanya untuk melihat dengan mata telanjang XL Green Forest. Eee siapa tahu suatu saat memang ada orang yang mungkin mau begitu trus sambil disana nelpon, sms an juga internetan pake XL, gak mungkin kalee…. Tapi karena sinyal XL jernih kualitasnya gak ada yang gak mungkin, bukan begitu XL ? Kemudian darimana biayanya agar XL bisa menanam pohon dan membuat sebuah hutan ? Gampang….. seperti konsep Walimari diatas, sisihkan saja oleh XL satu atau beberapa rupiah setiap harinya dari setiap biaya sms, telepon, internet untuk dikumpulkan. Sedikit demi sedikit, lama-lama kan menjadi (hutan) ber bukit. Coba hitung… berapa trafik sms pelanggan XL per harinya ? berapa menit pelanggan XL telepon per harinya ? berapa kilobyte pelanggan XL internetan per harinya ? Coba berapa jumlah perharinya pada saat before n after Lebaran ? Banyak kan….? Saya yakin jika XL berkomitmen penuh, kita-kita sebagai pelanggan setia XL pasti gak keberatan dan akan mendukung penuh. Dalam beberapa tahun kedepan hutan yang kita impikan saya yakin akan terwujud. Mengutip berita dari http://www.tempointeraktif.com, Mari coba kita hitung-hitung, pada Hari Raya Idul Fitri tahun 2010 kemarin saja jumlah pesan pendek (sms) XL sebanyak 587 juta, Percakapan suara mencapai 670 juta menit. Sedangkan lalu lintas data mencapai 9,9 terabyte. Ditambah lagi jika pelanggan XL yang targetnya 40 jt di akhir tahun ini ikut juga membantu dengan menyisihkan sebagian uangnya untuk progran XL Green Forest. Belum ditambah pemasukan dari program-program sms premium. Kalikan saja misalnya angka-angka diatas dengan Rp.1,- (satu rupiah) per 1 sms untuk pesan pendek biasa yang terkirim atau per 1 Mb atau Rp.5,- (lima rupiah) per 1 menit untuk percakapan telepon. Berarti dalam hari lebaran saja kurang lebih bisa terkumpul uang sebanyak 1 X 587 juta plus 5 X 670 juta plus 1 X 9,9 jt. Ehm… banyak juga kan jumlahnya ? Itu satu hari di hari lebaran saja lho, coba dalam setahun atau beberapa tahun, hitung sendiri aja deh. Kita harus yakin XL Green Forest yang kita cita-citakan akan segera terwujud. Seperti halnya XL, dengan tekad, usaha dan kerja keras serta tetap semangat XL pun bisa melampaui targetnya dengan mencatat jumlah pelanggan 38,5 juta pada bulan September kemarin, padahal targetnya kan tahun ini cuma 35 – 36 juta pelanggan saja. Bukan hanya kita nantinya yang bisa menikmati indah dan rindangnya XL Green Forest, tapi juga anak cucu kita kelak. Jangan bilang kita sayang anak cucu kita jika kita sampai saat ini masih menghambur-hamburkan kertas yang berdampak gundulnya hutan kita. Mari dukung XL untuk mewujudkan Indonesia Hijau. XL Go Green Go Paperless. Asdansbacktonature Foto diambil dari : Kumpul Blogger ya Disini Tempatnya Tulisan Lain Yang Relevan Dengan Posting Ini :
Nyaah ka anak incu
Tapi leuweung digundulan
Jeung teu dipelakan deui
Eta pasti bohong…
Lamun aya nu ngaku Nyaah ka anak incu
Tapi daerah resapan air
Diparake bangunan wae
Eta pasti bohong…
Lamun aya nu ngaku
Nyaah ka anak incu
Gawe ngan ngaruksak
Kabur tina tanggung jawab
Eta pasti bohong…
Sabab lamun urang nyaah ka anak incu
Piraku urang rek ngawariskeun alam
Anu geus ruksak ka anak incu ?
Piraku urang rek ngawariskeun
Gunung anu geus gararundul ka anak incu ?
Piraku urang rek ngawariskeun
Laut anu geus kalalotor ka anak incu ?
Piraku….
Lamun nyaah mah ulah diraruksak,
Wariskeuneun ka anak incu urang eta teh
Omat ulah diruksak























